oleh

Legenda pembarong kembar Wondo Wandi

cakrawala7.com di tengah orang-orang se usia beliau yang memasuki masa pensiun, namun tidak untuk keduanya, yang justru masih aktif sebagai pelaku (Penari) sekaligus pelatih tari Reyog Ponorogo. Adalah Suwondo-Suwandi atau lebih dikenal kalangan seniman Reyog Ponorogo (Bala Reyog: baca jawa) dengan sebutan mbah Wondo-Wandi (Kembar) sebagai sosok Pembarong senior yang mempunyai gaya khas dan hingga kini senantiasa menjadi panutan (rujukan) para pembarong generasi berikutnya. Di usianya yang semakin senja (menginjak 66 tahun pada tahun ini) keduanya masih eksis berkiprah dalam berkesenian, baik menari maupun sebagai pelatih.

Sementara itu untuk menopang kebutuhan rutin hidup sehari-hari, Suwandi bekerja sebagai tukang becak (pengemudi becak) sedangkan Suwondo bekerja sebagai penjual kerupuk keliling,selain juga sebagai penari dan pelatih tari.

Sekitar kurun waktu 20 tahun terakhir, di tengah maraknya gaya-gaya pembarong muda (penari Dhadak Merak) yang cenderung mengandalkan rosa (baca jawa: kekuatan fisik-bukan rasa) Wondo-Wandi tetap eksis dengan gaya pembarong kawak (kuno) yang lebih mengedepankan rasa Joged dan keindahan (perpaduan kesan “hidup”nya greget galak (ganas)-nya barongan/macan dengan kelembutan karakter burung merak).

 

Foto Wondo wandi berlatih di gedung yayasan reyog Ponorogo
Foto Wondo wandi berlatih di gedung yayasan reyog Ponorogo

Menurut Shodig Pristiwanto S.Sn wakil III,bidang teknik diklat dan pelatihan koreografer dan pengamat seni (dari Yayasan Reyog Ponorogo) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir teknik “Dhodhokan” seringkali dihindari oleh para pembarong muda saat menari (membarong) pada Festival Reyog Nasional, karena tingkat kesulitan dan beban yang cenderung lebih berat. Pada konteks ini justru berbeda dengan Wondo-Wandi yang menjadikan tehnik dhodhokan sebagai salah satu andalannya dalam performen / penampilannya, selain tehnik umum dalam membarong yaitu tehnik Kayang, Kebatan dan jurus (memainkan kombinasi pola-pola tangan dan kaki dan seluruh tubuh yang menyerupai harimau).

Salah satu hal lagi yang menarik dan perlu dicatat adalah meskipun Wondo Wandi termasuk pembarong tiga dekade (kawak) namun di setiap performent (penampilan) nya jauh dari unsur-unsur trans (kesurupan), tetapi justru penuh dengan totalitas yang menonjolkan keindahan murni nan menimbulkan suasana estetis.
Menurut Shodiq Pristiwanto lagi, (dari yayasan reyog) mengakui bahwa Wondo-Wandi adalah pembarong tua yang masih eksis hingga kini, di akui pula oleh Shodiq bahwa memang keduanya bukan tipe pembarong yang banyak atraktif namun justru konsistensi keduanya yang tetap mempertahankan gaya kawak,an.(Joged)

Foto Shodig Pristiwanto dan Dedi berlatih bersama Di gedung yayasan reyog Ponorogo
Foto Shodig Pristiwanto dan Dedi berlatih bersama Di gedung yayasan reyog Ponorogo

Umumnya pembarong muda kini, cenderung mengandalkan atraktif dengan tehnik “Kayang”, dan “Gulung”, “Kebatan” dan cenderung okol (baca jawa: hanya fisik saja).

Pembarong kembar Wondo-Wandi ini mempunyai istilah khusus gaya khas duet mereka yaitu; (Kupu Tarung), sebuah pengibaratan dhadak merak tarung dengan solah atau perilaku dua kupu-kupu yang sedang “berduel”. Terkait gaya Kupu Tarung, Dwi (Pelaku seni Reyog) menyatakan; bahwa Wondo-Wandi adalah penemu sekaligus penari merak tarung/kupu tarung yang pertama kali dan belum ada duanya. Wondo-Wandi adalah pembarong kawakan yang mempunyai daya tahan luar biasa, mereka bisa membarong dalam durasi yang sangat lama dalam satu kali perform, bahkan bisa mengalahkan pembarong-pembarong muda. Mengingat beban berat dhadak merak dan kepala macan yang harus di angkat hanya dengan mengandalkan kekuatan gigi, padahal beratnya bisa mencapai lebih dari 50kg, maka hal ini sangatlah luar biasa.

Di Kabupaten Ponorogo selain membarong, Wondo-Wandi juga terkenal sebagai penari Kucingan (menarikan karakter harimau, hanya dengan menggunakan kepala /barongan saja, tanpa menggunakan dhadak merak). Salah satu bagian dari kesenian Reyog Ponorogo, yang sudah cukup jarang di tampilkan. Lain halnya dengan Wondo-Wandi, dua orang ini seringkali masih mendapatkan job untuk menampilkan kebolehan mereka dalam menari Kucingan, meskipun untuk pertunjukan di desa-desa. Dan benar saja, banyak kalangan pelaku Reyog mengakui bahwasannya Wondo-Wandi adalah juga empunya untuk tari kucingan.

Editor : redaksi

Reporter : tim liputan

Komentar

Leave a Reply

News Feed