oleh

Festival Reyog Nasional, Pembukaan Grebeg Suro 2026 di Ponorogo

Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam pembukaan Grebeg Suro tahun 2026.

cakrawala7.com – Setiap tahun, ribuan wisatawan cakrawala7.com-memadati Ponorogo untuk menyaksikan pertunjukan Reog yang megah, penuh energi, dan sarat makna budaya. Momen tersebut terjadi dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP), sebuah agenda budaya terbesar di Bumi Reog yang kini masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.
Namun, FNRP bukan sekadar festival seni tahunan. Di balik atraksi Dadak Merak yang spektakuler, tersimpan perjalanan panjang warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun dan kini tengah diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan lebih luas di tingkat dunia.

Lalu, bagaimana sejarah Festival Nasional Reog Ponorogo dan mengapa acara ini begitu penting bagi masyarakat Ponorogo? Berikut ulasan lengkapnya.

Apa Itu Festival Nasional Reog Ponorogo?
Festival Nasional Reog Ponorogo atau FNRP merupakan ajang pertunjukan dan kompetisi seni Reog terbesar di Indonesia yang digelar setiap tahun di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Festival ini menjadi bagian utama dari rangkaian perayaan Grebeg Suro yang berlangsung setiap pergantian Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Dalam perhelatan tersebut, berbagai kelompok Reog terbaik dari Ponorogo maupun daerah lain menampilkan kemampuan terbaik mereka di hadapan ribuan penonton.

Mengapa Festival Nasional Reog Ponorogo Begitu Istimewa?
Bagi masyarakat Ponorogo, Reog bukan sekadar pertunjukan hiburan.

Kesenian ini merupakan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi dan menjadi simbol kebanggaan daerah. Karena itulah, FNRP memiliki posisi yang sangat penting sebagai wadah untuk menjaga eksistensi Reog di tengah perkembangan zaman.

Nilai penting tersebut semakin mendapat pengakuan secara nasional. Sejak 2021, Festival Nasional Reog Ponorogo secara konsisten masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN), program unggulan Kementerian Pariwisata yang menghimpun event-event terbaik dari seluruh Indonesia.

Bahkan, festival ini pernah dinobatkan sebagai salah satu event budaya terbaik tingkat nasional, menunjukkan bahwa daya tarik Reog tidak hanya dikenal masyarakat Jawa Timur, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.

Sejarah Reog Ponorogo yang Menjadi Dasar Festival
Untuk memahami FNRP, penting mengetahui akar sejarah Reog itu sendiri.

Keberadaan Reog Ponorogo tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan literatur Jawa kuno. Salah satu referensi tertua ditemukan dalam Serat Centhini karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III dari Surakarta yang menunjukkan bahwa kesenian ini telah hidup sejak ratusan tahun lalu.

Dalam perkembangannya, sejarah Reog dikenal melalui dua narasi besar yang hingga kini hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Legenda Kelana Sewandana dan Dewi Songgolangit
Versi pertama berasal dari kisah romantis Prabu Kelana Sewandana, Raja Bantarangin, yang ingin meminang Dewi Songgolangit dari Kediri.

Sebagai syarat lamaran, sang putri meminta pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Kelana Sewandana bersama Warok dan Bujang Ganong menciptakan pertunjukan unik yang menampilkan sosok Singo Barong berpadu dengan burung merak serta pasukan berkuda yang kemudian diwujudkan dalam tarian Jathil.

Kisah inilah yang menjadi dasar cerita dalam banyak pementasan Reog hingga saat ini.

Kritik Politik Ki Ageng Kutu terhadap Majapahit
Selain legenda romantis, terdapat pula versi sejarah yang lebih dekat dengan kritik sosial dan politik.

Dalam cerita ini, Ki Ageng Kutu disebut menciptakan Reog sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintahan Bhre Kertabumi atau Brawijaya V pada akhir masa Kerajaan Majapahit.

Singo Barong digambarkan sebagai simbol raja, sementara burung merak yang bertengger di atasnya melambangkan kuatnya pengaruh permaisuri terhadap kebijakan kerajaan. Melalui simbol-simbol tersebut, Reog menjadi media kritik yang dikemas dalam bentuk seni pertunjukan.

Dua versi sejarah tersebut kemudian menyatu dan membentuk identitas budaya Reog Ponorogo yang dikenal hingga sekarang.

Kapan Festival Nasional Reog Ponorogo Digelar?
Festival Nasional Reog Ponorogo biasanya berlangsung bersamaan dengan rangkaian Grebeg Suro.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo umumnya menggelar acara selama sekitar 10 hari dengan puncak kegiatan bertepatan dengan malam pergantian Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam.

Selain FNRP, terdapat pula Festival Reog Remaja yang menjadi sarana pembinaan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan seni Reog di masa depan.

Karena jadwal dapat berubah setiap tahun, wisatawan disarankan memantau informasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Dinas Pariwisata Ponorogo, maupun kalender Karisma Event Nusantara (KEN).

Tokoh-Tokoh Ikonik dalam Pertunjukan Reog
Keunikan Reog tidak hanya terletak pada atraksi fisik yang memukau, tetapi juga pada karakter-karakter yang memiliki makna filosofis mendalam.

Dadak Merak
Dadak Merak merupakan ikon utama Reog berupa topeng kepala harimau raksasa yang dihiasi bulu merak. Atraksi mengangkat Dadak Merak menggunakan gigi menjadi simbol kekuatan luar biasa para pembarong.

Prabu Kelana Sewandana
Tokoh raja sakti dari Kerajaan Bantarangin ini melambangkan kepemimpinan, keberanian, dan keteguhan hati dalam memperjuangkan tujuan hidup.

Bujang Ganong
Karakter bertopeng merah ini dikenal lincah, cerdas, dan atraktif. Gerakan akrobatiknya selalu menjadi salah satu bagian paling menarik dalam pementasan Reog.

Warok
Warok merupakan simbol kekuatan spiritual, keteguhan moral, dan pengendalian diri. Sosok ini menjadi penjaga nilai-nilai luhur dalam tradisi Reog.

Jathil
Penari Jathil menggambarkan pasukan berkuda yang tangguh, disiplin, dan siap berjuang membela kerajaan.

Penyenggak dan Pengrawit
Mereka bertugas menghidupkan suasana pertunjukan melalui iringan musik tradisional yang mengatur ritme seluruh pementasan.

Peran FNRP dalam Pelestarian Budaya dan Ekonomi Daerah
Festival Nasional Reog Ponorogo tidak hanya berdampak pada sektor budaya, tetapi juga ekonomi masyarakat.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Ponorogo, pemerintah daerah memperkuat pelestarian Reog melalui berbagai program pendidikan. Salah satunya melalui Peraturan Bupati Nomor 35 Tahun 2024 yang menetapkan Reog sebagai kegiatan ekstrakurikuler di tingkat SD dan SMP di seluruh Ponorogo.

Dari sisi ekonomi, ekosistem Reog juga terbukti menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat. Ratusan paguyuban seni dan perajin atribut Reog terlibat dalam rantai ekonomi budaya yang menghasilkan miliaran rupiah setiap tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Reog bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Ponorogo.

Jika berkesempatan mengunjungi Ponorogo saat Grebeg Suro berlangsung, FNRP menjadi salah satu agenda yang layak masuk daftar perjalanan. Selain menyaksikan pertunjukan budaya yang spektakuler, pengunjung juga dapat melihat langsung bagaimana warisan leluhur terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.

Komentar

Leave a Reply