
akrawala7.com – – Sejumlah komunitas sejarah, budaya di Kabupaten Ponorogo melakukan kajian ulang atas penetapan hari jadi Kabupaten Ponorogo.
Menurut beberapa sejarawan terdapat kesalahan saat penetapan hari jadi Ponorogo yang menghasilkan angka 529. Selain melakukan Forum Group Diskusi (FGD), para sejarawan dan budayawan yang diprakarsai oleh Pamong Wengker melakukan seminar yang bertujuan untuk membedah, apakah benar hari jadi Ponorogo seperti yang ditetapkan dalam Keputusan DPRD Ponorogo nomor 01/DPRD/1996. Dalam keterangannya, Masrofiqi, salah satu narasumber seminar sekaligus sebagai pengurus Pamong Wengker mengatakan adanya kesalahan baca pada batu gilang yag menjadi sumber penetapan hari jadi Ponorogo. Menurutnya pembacaan angka menemui kesalahan, yang seharusnya dibaca 1318 tapi dibaca 1418.
Sementara itu, Rizky Susantiini, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 11 mengatakan perlu adanya kesepakatan untuk menetapkan Kabupaten Ponorogo berdasarkan bukti apa yang akan menjadi acuan. “Ini kembali pada kesepakatan tim nanti. Apakah akan menarik ke masa Balitung, Majapahit, atau justru ke masa pemerintahan Belanda yang sudah membuat tatanan pemerintahan modern,” ujar Rizky. Disisi lain, Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko mengatakan kegiatan ini bukan muncul secara tiba-tiba, tapi melalui diskusi panjang. Terlebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dimasyarakat, apakah benar hari jadi seperti yang dipahami sekarang, atau salah?
Karena itulah, Sugiri Sancoko memasrahkan semuanya pada para ahli, dia yakin orang-orang yang berkompeten akan menghasilkan sejarah yang sesuai sehingga ditemukan hari jadi berdasarkan literatur.
“Ini bukan sekadar rencana, tapi kami ingin menjawab semua pertanyaan masyarakat. Apakah benar hari jadi tanggal ini atau itu, saya tidak tahu. Karena itu, perlu ada peninjauan dan diseminarkan oleh orang-orang yang berilmu, kompeten di bidangnya, yang memahami sejarah dengan literatur yang detail,” jelas Sugiri Sancoko.
“Jangan berdasarkan dongeng, cerita, atau legenda. Harus berdasarkan ilmu pengetahuan. Saya manut saja pada hasil kajian para ahli, agar generasi penerus memahami sejarah, masa lalu, dan leluhurnya dengan benar sebagai pijakan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tambahnya.(*)























Komentar