
cakrawala7.com-Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Ponorogo yang rutin digelar pada tiap tanggal 15 hingga 22 Oktober harus terkesan funky. Demikian pesan plt Bupati Ponorogo Lisdyarita saat memimpin rapat koordinasi persiapan peringatan HSN ke – 12 diruang rapat Bantarangin pada hari Senin tanggal 5 September 2026 lalu.
Hari Santri Nasional merupakan refleksi yang menandai perjuangan para ulama dan kyai yang mewariskan nilai luhur agama islam dan nasionalisme dalam revolusi jihad 1945.
Lisdyarita menyampaikan bahwa momen ini mampu menyentuh generasi (Gen) Z. Karena menurut data demografi penduduk Ponorogo banyak masuk rentan waktu tahun 1997 sampai dengan 2012.
“Momen hari santri ini harus dapat menyentuh generasi muda, maka dari itu harus terkesan funky tapi tidak lepas dari nilai luhur agama dan budaya,” terang Lisdyarita.
Lisyarita mendefinisikan makna funky sebagai hal unik, keren, modis serta menonjol dari tren biasa. Tak lupa sentuhan retro dan artistik.
“Saat ini memang kita sedang melakukan efisiensi penyesuaian anggaran. Walaupun begitu, peringatan hari santri tahun ini harus tetap berlangsung meski sederhana tapi ada makna yang dapat kita ambil,” terang Plt Bupati Ponorogo.

Lisdyarita mengatakan identitas Ponorogo sebagai kota budaya dan santri menuntut penyelenggara untuk bisa tampil beda. Dengan taxline ” Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
“Panitia harus melibatkan unsur masyarakat serta mendorong prinsip regenerasi kepemimpinan, tak lupa harus inklusif,” pesan Lisdyarita.
Tak hanya itu peringatan HSN ke 12 kali ini mengusung pesan “Ayo Mondok.” Lisdyarita mendorong generasi muda agar tertarik untuk mengenyam pendidikan dipondok pesantren.
Tanggung jawab kita menjaga anak anak generasi muda yang membutuhkan pendidikan dilingkungan yang beradap, berakhlak serta spiritual,” pungkasnya. (“)






















Komentar